Artikel Kesehatan

Dari Overthinking ke Gula Darah Tinggi: Kenapa Anxiety Gen Z Bisa Berujung pada Diabetes?

07 Nov 2026 Tim Medis GrSetra

Gambar Gen Z + Anxiety + Diabetes
Jam 2 pagi. Kamar sudah gelap, tapi layar smartphone masih menyala terang. Isi kepalamu riuh dengan berbagai pertanyaan: "Gimana kalau aku salah ambil keputusan karir?", "Kenapa tabunganku segini-gini aja?", atau sekadar overthinking menebak-nebak maksud chat singkat dari seseorang. Perasaan cemas, dada berdebar, dan pikiran yang berlarian tanpa arah ini akrab kita sebut dengan anxiety.

Bagi Gen Z, anxiety seolah sudah jadi "teman" sehari-hari di tengah kerasnya budaya hustle, paparan media sosial tiada henti, dan tuntutan hidup yang serba cepat. Tapi, tahukah kamu kalau efek dari overthinking tiap malam ini ternyata nggak berhenti di kesehatan mental saja?

Diam-diam, anxiety yang terus-menerus kamu pelihara bisa merambat ke fisik dan membukakan pintu untuk penyakit metabolik, salah satunya adalah Diabetes Tipe 2.

Kok bisa pikiran yang stres bikin gula darah naik? Yuk, kita bedah benang merahnya!

1. Kortisol: Saat Tubuhmu Mengira Kamu Sedang Dikejar Harimau

Ketika kamu sedang panik, cemas, atau overthinking berat, otakmu tidak bisa membedakan apakah kamu sedang stres karena dikejar deadline atau stres karena dikejar harimau di hutan. Otak merespons ancaman ini dengan membanjiri tubuhmu dengan hormon stres bernama kortisol dan adrenalin.

Dalam mode survival atau "siap tempur" ini, tubuh butuh energi instan. Kortisol pun langsung membongkar cadangan gula di hati (liver) dan membuangnya ke aliran darah. Di saat yang sama, kortisol ini bertingkah layaknya "satpam galak" yang menahan kerja insulin, sehingga gula yang sudah membanjiri darah tidak bisa masuk ke dalam sel.

Masalahnya, kamu kan lagi rebahan di kasur sambil overthinking, bukan berlari menjauh dari harimau. Energi ekstra itu tidak terpakai, dan akhirnya gula tersebut mengendap begitu saja di aliran darah. Kalau cemas ini terjadi setiap hari, tubuhmu akan terus-terusan berada dalam kondisi gula darah tinggi.

2. Jebakan Emotional Eating dan Lingkaran Setan Sugar Crash

Saat anxiety menyerang, tubuh yang kelelahan secara mental akan secara otomatis mencari jalan pintas untuk mendapatkan hormon bahagia (dopamin). Dan jalan paling murah, cepat, serta legal adalah: makanan manis.

Tiba-tiba kamu craving pesan es kopi susu aren, boba brown sugar, seblak pedas, atau donat manis lewat aplikasi ojol. Sensasi nyaman dari "gula dan karbohidrat" ini memang ampuh menenangkan pikiran sesaat. Tapi sayangnya, ini adalah jebakan mematikan.

Gula dari makanan manis itu akan melonjakkan gula darahmu dengan sangat cepat, lalu beberapa jam kemudian anjlok dengan sangat drastis (sugar crash). Tahu nggak apa efek dari gula darah yang tiba-tiba drop? Jantung berdebar, tangan gemetar, keringat dingin, dan perasaan gelisah. Yap, gejala sugar crash itu sama persis dengan gejala panic attack atau anxiety. Akibatnya, kecemasanmu justru makin parah, dan kamu akan kembali mencari makanan manis. Sebuah lingkaran setan yang pelan-pelan merusak pankreasmu.

3. Revenge Bedtime Procrastination yang Merusak Metabolisme

Banyak anak muda yang sengaja begadang bukan karena banyak kerjaan, tapi karena merasa waktu siangnya sudah habis "dirampas" oleh rutinitas. Malam hari jadi satu-satunya waktu untuk me-time sambil doomscrolling media sosial.

Sayangnya, kurang tidur kronis adalah musuh bebuyutan metabolisme. Tubuh yang kurang istirahat akan menjadi lebih resisten (kebal) terhadap insulin. Kombinasi antara stres, kurang tidur, dan sering jajan manis di tengah malam adalah "resep paling sempurna" untuk mengundang diabetes di usia 20-an.

Cara Memutus Siklusnya (Tanpa Perlu Jadi Perfect)

Kesehatan mental dan fisik itu terhubung di satu jalan dua arah. Kamu nggak bisa memperbaiki yang satu sambil mengabaikan yang lain. Kalau kamu merasa siklus cemas dan gula darah ini sudah mulai terjadi padamu, coba lakukan pengereman darurat dengan cara ini:

  • Bakar Kortisolnya: Saat anxiety menyerang dan jantung mulai berdebar cepat, jangan diam saja atau langsung pesan makanan manis. Bangunlah. Jalan kaki di sekitar rumah, stretching, atau lakukan olahraga ringan selama 15 menit. Gerakan fisik adalah cara paling logis untuk "membakar" gula darah yang sedang dibuang kortisol ke aliran darahmu.
  • Ganti Pelampiasanmu: Kalau mulut memang gatel mau ngunyah saat stres, ganti dengan makanan yang nggak bikin sugar crash. Mengunyah kacang-kacangan, edamame rebus, atau kuaci jauh lebih aman buat menstabilkan mental dan gula darahmu ketimbang melahap martabak manis.
  • Beri Otak Waktu "Shutdown": Buat batasan jam malam untuk layar gadget. Overthinking di malam hari jarang menghasilkan solusi yang bagus, ia hanya memproduksi kortisol. Cobalah teknik pernapasan atau dengarkan white noise untuk membantu tubuh transisi ke mode istirahat.
  • Cari Bantuan Ahli, Berhenti Self-Diagnose: Gula darah tinggi itu sering kali nggak ada rasanya, begitu juga dengan akar anxiety yang mungkin butuh diurai. Daripada cuma scroll info kesehatan di internet yang ujung-ujungnya bikin kamu makin overthinking kena penyakit parah, mending hadapi realitanya.

Jadwalkan dirimu untuk konsultasi dan pemeriksaan medis di fasilitas seperti Klinik Utama CMI. Mendapatkan hasil lab darah yang pasti dan ngobrol langsung dengan ahlinya akan jauh lebih menenangkan ketimbang asumsi liar di kepalamu sendiri.

Anxiety memang berat, tapi kamu nggak harus melaluinya sambil merusak tubuhmu sendiri. Yuk, sayangi pikiran dan pankreasmu dari sekarang.