
Bagi Gen Z, anxiety seolah sudah jadi "teman" sehari-hari di tengah kerasnya budaya hustle, paparan media sosial tiada henti, dan tuntutan hidup yang serba cepat. Tapi, tahukah kamu kalau efek dari overthinking tiap malam ini ternyata nggak berhenti di kesehatan mental saja?
Diam-diam, anxiety yang terus-menerus kamu pelihara bisa merambat ke fisik dan membukakan pintu untuk penyakit metabolik, salah satunya adalah Diabetes Tipe 2.
Kok bisa pikiran yang stres bikin gula darah naik? Yuk, kita bedah benang merahnya!
Ketika kamu sedang panik, cemas, atau overthinking berat, otakmu tidak bisa membedakan apakah kamu sedang stres karena dikejar deadline atau stres karena dikejar harimau di hutan. Otak merespons ancaman ini dengan membanjiri tubuhmu dengan hormon stres bernama kortisol dan adrenalin.
Dalam mode survival atau "siap tempur" ini, tubuh butuh energi instan. Kortisol pun langsung membongkar cadangan gula di hati (liver) dan membuangnya ke aliran darah. Di saat yang sama, kortisol ini bertingkah layaknya "satpam galak" yang menahan kerja insulin, sehingga gula yang sudah membanjiri darah tidak bisa masuk ke dalam sel.
Masalahnya, kamu kan lagi rebahan di kasur sambil overthinking, bukan berlari menjauh dari harimau. Energi ekstra itu tidak terpakai, dan akhirnya gula tersebut mengendap begitu saja di aliran darah. Kalau cemas ini terjadi setiap hari, tubuhmu akan terus-terusan berada dalam kondisi gula darah tinggi.
Saat anxiety menyerang, tubuh yang kelelahan secara mental akan secara otomatis mencari jalan pintas untuk mendapatkan hormon bahagia (dopamin). Dan jalan paling murah, cepat, serta legal adalah: makanan manis.
Tiba-tiba kamu craving pesan es kopi susu aren, boba brown sugar, seblak pedas, atau donat manis lewat aplikasi ojol. Sensasi nyaman dari "gula dan karbohidrat" ini memang ampuh menenangkan pikiran sesaat. Tapi sayangnya, ini adalah jebakan mematikan.
Gula dari makanan manis itu akan melonjakkan gula darahmu dengan sangat cepat, lalu beberapa jam kemudian anjlok dengan sangat drastis (sugar crash). Tahu nggak apa efek dari gula darah yang tiba-tiba drop? Jantung berdebar, tangan gemetar, keringat dingin, dan perasaan gelisah. Yap, gejala sugar crash itu sama persis dengan gejala panic attack atau anxiety. Akibatnya, kecemasanmu justru makin parah, dan kamu akan kembali mencari makanan manis. Sebuah lingkaran setan yang pelan-pelan merusak pankreasmu.
Banyak anak muda yang sengaja begadang bukan karena banyak kerjaan, tapi karena merasa waktu siangnya sudah habis "dirampas" oleh rutinitas. Malam hari jadi satu-satunya waktu untuk me-time sambil doomscrolling media sosial.
Sayangnya, kurang tidur kronis adalah musuh bebuyutan metabolisme. Tubuh yang kurang istirahat akan menjadi lebih resisten (kebal) terhadap insulin. Kombinasi antara stres, kurang tidur, dan sering jajan manis di tengah malam adalah "resep paling sempurna" untuk mengundang diabetes di usia 20-an.
Kesehatan mental dan fisik itu terhubung di satu jalan dua arah. Kamu nggak bisa memperbaiki yang satu sambil mengabaikan yang lain. Kalau kamu merasa siklus cemas dan gula darah ini sudah mulai terjadi padamu, coba lakukan pengereman darurat dengan cara ini:
Jadwalkan dirimu untuk konsultasi dan pemeriksaan medis di fasilitas seperti Klinik Utama CMI. Mendapatkan hasil lab darah yang pasti dan ngobrol langsung dengan ahlinya akan jauh lebih menenangkan ketimbang asumsi liar di kepalamu sendiri.
Anxiety memang berat, tapi kamu nggak harus melaluinya sambil merusak tubuhmu sendiri. Yuk, sayangi pikiran dan pankreasmu dari sekarang.